Minggu, 20 Maret 2022

PIKIRKU


Ketika mata berlinang jingga, kau datang bak rembulan memberi titik terang dan secercah harapan. Menghapus kisah kelam yang mengekang.

Kupikir hadirmu akan merubah keadaan dan membuat segalanya menjadi menyenangkan.

Kupikir kau akan menjadi benteng ketika gundah menyerang.

Kupikir kau akan menjadi pedang yang menghunus segala cemas tentang perihnya perpisahan.

Kupikir, itu hanya sekadar harap dan pikiranku.

Jikalau aku menghilang, sejatinya aku berada di dalam rimbunnya pepohonan, dibalik hamparan bukit yang megah atau di tepi danau yang menawan.

Jikalau kau tak kunjung menemukanku,
Percayalah...
Aku telah berada ditempat yang paling tenang dan abadi.

Makassar, 17 Maret 2022

Selasa, 08 Maret 2022

ORKESTRASI PERAMPASAN RUANG HIDUP

Diskusi yang dilaksanakan oleh kawan-kawan BEM FIS-H UNM kolaborasi dengan HIMA PPKn FIS-H UNM cukup membuka pandangan saya terkait bagaimana kemudian negara mempertontonkan perampasan ruang hidup, hampir di seluruh penjuru negeri. Tentu saja rakyat tidak tinggal diam, menjadi suatu kewajiban untuk melakukan perlawanan dan mempertahankan ruang hidupnya. Misalnya penggusuran masyarakat pesisir pantai merpati bulukumba, bara-baraya, tambang andesit di Wadas, tambang di Parigi Moutong yang menelan korban jiwa, dll.

Negara sebagai overhead (penguasa), merepresif rakyatnya yang tidak sejalan, melalui aparat negara. Maka wajar jika setiap hari kita mendengar dan memperoleh informasi terkait TNI-POLRI yang bersitegang dengan warga. Ujung-ujungnya ialah kriminalisasi.

Negara tentu punya itikad baik dalam perencanaannya, namun seringkali khilaf dalam pelaksanaannya. Perampasan yang dilakukan dengan dalih pembangunan untuk kepentingan rakyat, perlu dipertanyakan rakyat yang mana? Tidak mungkin mereka yang dirampas ruang hidupnya tanpa diberi kompensasi atau relokasi agar dapat kembali hidup dengan layak.

Beberapa perampasan ruang hidup yang terjadi tidak terlepas dari adanya percepatan proyek pembangunan strategis nasional. Proyek strategis nasional (PSN) adalah proyek-proyek infrastruktur Indonesia pada masa pemerintahan Presiden Joko Widodo yang dianggap strategis dalam meningkatkan pertumbuhan ekonomi, pemerataan pembangunan, kesejahteraan masyarakat, dan pembangunan di daerah. Landasan hukum PSN adalah Peraturan Presiden No 3 Tahun 2016 yang berturut-turut diubah dengan Peraturan Presiden No 58 Tahun 2017, Peraturan Presiden No 56 Tahun 2018, dan Peraturan Presiden No 109 Tahun 2020. Anehnya, pada pasal 19 (2) PP tersebut berbunyi "Dalam hal lokasi Proyek Strategis Nasional tidak sesuai
dengan Rencana Tata Ruang Wilayah, Rencana Detil Tata Ruang Daerah, atau Rencana Zonasi Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil dan secara teknis tidak dimungkinkan untuk dipindahkan dari lokasi yang direncanakan, dapat dilakukan penyesuaian tata ruang sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan di bidang penataan ruang". Artinya, ketika ada aturan yang bertentangan dengan PSN, maka dimungkinkan untuk dirubah aturan tersebut.

Bagi saya, pasal tersebut bertentangan dengan UUD 1945 Pasal 33 (3) "Bumi dan air dan kekayaan alam yang terkandung di dalamnya dikuasai oleh negara dan dipergunakan untuk sebesar-besar kemakmuran rakyat." Jika kita telisik frasa RAKYAT dalam pasal tersebut, bagi pemerintah tentu tidak bertentangan. Namun perlu dipertegas RAKYAT mana yang dimaksud? Sudah pasti bukan rakyat yang dirampas ruang hidupnya. Melainkan rakyat yang memiliki modal dan kekuasaan.

Olehnya itu sebagai seorang mahasiswa, hendaknya kita sama-sama mengedukasi pemuda, buruh, tani, nelayan, dan siapapun yang dirampas ruang hidupnya untuk bersatu dan bergerak bersama tanpa ada sekat dan membawa ego sektoral.

Selasa, 01 Maret 2022

NAMAMU!

Untukmu perempuan yang membuatku kagum dan jatuh hati. Mohon maaf karena terlalu lancang mencintaimu. 

"

Dari kejauhan, dalam diam kunikmati tawa dan senyummu. Ada harapan dan semangat bersemayam disana.

"

Setiap lembar buku yang kubaca, seolah ada halaman yang hilang dan itu kutemukan dalam dirimu.

"

Aku lupa, entah ajakan keberapa yang mesti dibatalkan karena padatnya agenda masing-masing. Kita terlalu sibuk memikirkan orang lain, hingga abai dengan diri sendiri.

"

Aku tidak tahu, apakah masih punya kekuatan untuk bertahan dan keberanian untuk terus mencintaimu.

"

Malam ini, kepingan itu kukumpalkan menjadi satu. Ia menjelma api keberanian yang tak mampu dipadamkan.

"

Kuucap, aku mencintaimu! 

Makassar, 02 Maret 2022

Senin, 20 Desember 2021

Memulai

Cobalah Untuk Memulai

     Aku ingin menulis seluruh kisah perjalananku. Langkah demi langkahnya. Namun sangat sulit bagiku untuk melakukannya. Meski beberapa buku pejalan telah kubaca, seperti dwilogi sepasang yang melawan karya Jazuli Imam dan beberapa buku karya Febrialdi R @edelweisbasah (Bara, Gitanjali dan Proelium), namun tetap saja sulit kulakukan. Mungkin karena kosa kataku yang masih terbatas atau sikapku yang sering menunda untuk menuangkan dalam bentuk tulisan sehingga keburu terlupakan.

    Jika teman-teman merasa senang dengan kegiatan alam bebas, cobalah baca buku-buku yang kusebutkan di atas. Buku-buku itu akan membawa anda menyelami realitas kehidupan. Meski banyak kemiripan dalam alur ceritanya, namun saya yakin teman-teman tidak akan merasa bosan untuk membacanya berulang kali. Buku-buku itu akan membuat anda terlalu ge-er, seolah-olah anda lah tokoh utama dalam buku itu. Tentu, disitulah keberhasilan seorang penulis.

    Meski buku-buku di atas hanyalah sebuah novel fiksi, namun anda akan mencari dan ingin berkunjung kebeberapa tempat yang disebutkan dalam buku tersebut.  Misalanya Djelajah Coffe dan Sagara Anak dalam dwilogi sepasang yang melawan karya Jazuli Imam. Djelajah yang menawarkan konsep kopi, buku dan cinta akan menjadi tempat yang selalu dirindukan. Sama halnya dengan sagara anak di gunung rinjani. Meski fiksi, akan tetapi tempat tersebut ada dalam dunia nyata.  Djelajah terletak di sudut kota Jogja. Namun sayang, Djelajah telah tutup beberapa bulan yang lalu.

    Seperti yang saya sebutkan di atas, akan ada tempat yang akan anda rindukan. Termasuk saya, Puncak Dewi Anjani menjadi tempat yang kuimpikan hingga hari ini. Do’akan saja, semoga segera diberi kesempatan untuk kesana. Ia adalah hutang yang harus dituntaskan!

 



Lamangkia: Dulu Dibanggakan, Sekarang Terlupakan!

 

LAMANGKIA : DULU DIBANGGAKAN, SEKARANG TERLUPAKAN!




              Ada yang tahu Pantai Lamangkia? Atau sudah pernah berkunjung kesana? Generasi yang lahir ditahun 90-an hingga awal 2000-an pasti tidak asing dengan tempat tersebut. Salah satu icon kebanggaan Kabupaten Takalar pada masanya. Pantai lamangkia terletak di Desa Topejawa Kecamatan Mangarabombang Kabupaten Takalar, berjarak sekitar 10 KM dari pusat Kabupaten Takalar dan dapat ditempuh sekitar 20 menit menggunakan sepeda motor.

              Pantai Lamangkia dulu ramai dikunjungi wisatawan lokal maupun mancanegara, sebelum abrasi melanda pantai ini sekitar tahun 2012 (Sumber: TribunTakalar.Com). Banyaknya sampah kiriman dari aliran sungai pappa pasca musim hujan, merupakan salah satu faktor mengapa pantai ini kehilangan citranya.  Bukan hanya itu, tanggul (karung) pemecah ombak yang disusun sepanjang pantai lamangkia untuk mencegah terjadinya abrasi, konon katanya anggaran proyek tersebut diduga dikorupsi (Koran Tempo-Kamis, 06 Januari 2010) dan  telah menelan beberapa korban. Pengunjung yang berenang di pantai sering tertusuk duri ikan sembilang atau orang-orang sekitar menyebutnya samelang yang bermukim di sekitar tanggul tersebut.

              Sekarang pantai lamangkia tidak terurus lagi, beberapa fasilitas yang ada sudah rata dengan tanah. Pasirnya yang halus kini bercampur dengan serbuk kayu, pemerintah hampir tak peduli dengan hal tersebut. Beberapa kegiatan aksi bersih telah dilakukan, bahkan pemuda sekitar mulai rutin membersihkan, dengan impian dan harapan Lamangkia kembali seperti dulu lagi. Aamiin.


              Dibulan Juli, Lamangkia akan menampakkan keelokannya, air laut seakan terbelah menjadi dua bagian, sehingga kita bisa berjalan kurang lebih 200 Meter ke tengah laut. Dan senja yang berlinang jingga dengan jelas nampak menuju peraduannya. 

              Perlahan namun pasti, ketika kita berusaha dan konsisten maka harapan-harapan itu bukan hanya sekedar angan belaka, melainkan menjadi nyata dan kemenangan bersama. Tapi tak bisa juga kita mengelak bahwa perlu adanya support dari pemerintah sebagai pemangku kebijakan. Mungkin pemerintah telah lupa, kalau pantai ini juga pernah menyumbang anggaran untuk daerah.

              Jika pemuda dan masyarakat bersinergi, sementara yang berwenang hanya diam dan menggugurkan tanggungjawab semata. Maka, bukan hanya sampah berserakan di pesisir pantai yang kita bersihkan. Akan tetapi, sampah-sampah berdasi juga perlu kita lenyapkan.

               

Jumat, 02 Agustus 2019

Orang Pinggiran


Kelaparan di tanah surga
Dikucilkan tak dipeduliakan
Derita menjadi santapan
Benar disalahkan
Angkat bicara dituduh pencemaran
Keadilan sebatas khayalan