Minggu, 20 Maret 2022
PIKIRKU
Selasa, 08 Maret 2022
ORKESTRASI PERAMPASAN RUANG HIDUP
Selasa, 01 Maret 2022
NAMAMU!
Untukmu perempuan yang membuatku kagum dan jatuh hati. Mohon maaf karena terlalu lancang mencintaimu.
"
Dari kejauhan, dalam diam kunikmati tawa dan senyummu. Ada harapan dan semangat bersemayam disana.
"
Setiap lembar buku yang kubaca, seolah ada halaman yang hilang dan itu kutemukan dalam dirimu.
"
Aku lupa, entah ajakan keberapa yang mesti dibatalkan karena padatnya agenda masing-masing. Kita terlalu sibuk memikirkan orang lain, hingga abai dengan diri sendiri.
"
Aku tidak tahu, apakah masih punya kekuatan untuk bertahan dan keberanian untuk terus mencintaimu.
"
Malam ini, kepingan itu kukumpalkan menjadi satu. Ia menjelma api keberanian yang tak mampu dipadamkan.
"
Kuucap, aku mencintaimu!
Makassar, 02 Maret 2022
Senin, 20 Desember 2021
Memulai
Cobalah Untuk Memulai
Aku ingin menulis seluruh kisah perjalananku. Langkah demi langkahnya. Namun
sangat sulit bagiku untuk melakukannya. Meski beberapa buku pejalan telah
kubaca, seperti dwilogi sepasang yang melawan karya Jazuli Imam dan beberapa
buku karya Febrialdi R @edelweisbasah (Bara,
Gitanjali dan Proelium), namun tetap saja sulit kulakukan. Mungkin karena kosa
kataku yang masih terbatas atau sikapku yang sering menunda untuk menuangkan
dalam bentuk tulisan sehingga keburu terlupakan.
Jika teman-teman merasa senang dengan kegiatan alam bebas, cobalah baca
buku-buku yang kusebutkan di atas. Buku-buku itu akan membawa anda menyelami
realitas kehidupan. Meski banyak kemiripan dalam alur ceritanya, namun saya
yakin teman-teman tidak akan merasa bosan untuk membacanya berulang kali. Buku-buku
itu akan membuat anda terlalu ge-er, seolah-olah anda lah tokoh utama dalam buku
itu. Tentu, disitulah keberhasilan seorang penulis.
Meski buku-buku di atas hanyalah sebuah novel fiksi, namun anda akan mencari
dan ingin berkunjung kebeberapa tempat yang disebutkan dalam buku
tersebut. Misalanya Djelajah Coffe dan
Sagara Anak dalam dwilogi sepasang yang melawan karya Jazuli Imam. Djelajah
yang menawarkan konsep kopi, buku dan cinta akan menjadi tempat yang selalu
dirindukan. Sama halnya dengan sagara anak di gunung rinjani. Meski fiksi, akan
tetapi tempat tersebut ada dalam dunia nyata. Djelajah terletak di sudut kota Jogja. Namun sayang,
Djelajah telah tutup beberapa bulan yang lalu.
Seperti yang saya sebutkan di atas, akan ada tempat yang akan anda
rindukan. Termasuk saya, Puncak Dewi Anjani menjadi tempat yang kuimpikan
hingga hari ini. Do’akan saja, semoga segera diberi kesempatan untuk kesana. Ia
adalah hutang yang harus dituntaskan!
Lamangkia: Dulu Dibanggakan, Sekarang Terlupakan!
LAMANGKIA : DULU DIBANGGAKAN, SEKARANG TERLUPAKAN!
Ada yang tahu Pantai Lamangkia? Atau sudah pernah berkunjung kesana? Generasi yang lahir ditahun 90-an hingga awal 2000-an pasti tidak asing dengan tempat tersebut. Salah satu icon kebanggaan Kabupaten Takalar pada masanya. Pantai lamangkia terletak di Desa Topejawa Kecamatan Mangarabombang Kabupaten Takalar, berjarak sekitar 10 KM dari pusat Kabupaten Takalar dan dapat ditempuh sekitar 20 menit menggunakan sepeda motor.
Pantai Lamangkia dulu ramai dikunjungi wisatawan lokal maupun mancanegara, sebelum abrasi melanda pantai ini sekitar tahun 2012 (Sumber: TribunTakalar.Com). Banyaknya sampah kiriman dari aliran sungai pappa pasca musim hujan, merupakan salah satu faktor mengapa pantai ini kehilangan citranya. Bukan hanya itu, tanggul (karung) pemecah ombak yang disusun sepanjang pantai lamangkia untuk mencegah terjadinya abrasi, konon katanya anggaran proyek tersebut diduga dikorupsi (Koran Tempo-Kamis, 06 Januari 2010) dan telah menelan beberapa korban. Pengunjung yang berenang di pantai sering tertusuk duri ikan sembilang atau orang-orang sekitar menyebutnya samelang yang bermukim di sekitar tanggul tersebut.
Sekarang pantai lamangkia tidak terurus lagi, beberapa fasilitas yang ada sudah rata dengan tanah. Pasirnya yang halus kini bercampur dengan serbuk kayu, pemerintah hampir tak peduli dengan hal tersebut. Beberapa kegiatan aksi bersih telah dilakukan, bahkan pemuda sekitar mulai rutin membersihkan, dengan impian dan harapan Lamangkia kembali seperti dulu lagi. Aamiin.
Dibulan Juli, Lamangkia akan menampakkan keelokannya, air laut seakan terbelah menjadi dua bagian, sehingga kita bisa berjalan kurang lebih 200 Meter ke tengah laut. Dan senja yang berlinang jingga dengan jelas nampak menuju peraduannya.
Perlahan namun pasti, ketika kita berusaha dan konsisten maka harapan-harapan itu bukan hanya sekedar angan belaka, melainkan menjadi nyata dan kemenangan bersama. Tapi tak bisa juga kita mengelak bahwa perlu adanya support dari pemerintah sebagai pemangku kebijakan. Mungkin pemerintah telah lupa, kalau pantai ini juga pernah menyumbang anggaran untuk daerah.
Jika pemuda dan masyarakat bersinergi, sementara yang berwenang hanya diam dan menggugurkan tanggungjawab semata. Maka, bukan hanya sampah berserakan di pesisir pantai yang kita bersihkan. Akan tetapi, sampah-sampah berdasi juga perlu kita lenyapkan.
