Aku Andesit. Bagiku Andesit nama yang istimewa. Meski di Wadas, ia dikeruk habis-habisan. Orang-orang memperjuangkannya, sebab ia begitu berharga bagi masyarakat. Di sanalah masyarakat menggantungkan harapan dan masa depannya. Disana pula sumber kehidupan masyarakat.
Andesit tertarik dengan isu lingkungan. Termasuk persoalan yang dihadapi oleh masyarakat Wadas. Ketertarikannya mengantarkan ia untuk bergabung dengan sebuah rumah yang dilabeli pecinta alam. Ia ingin belajar banyak hal tentang lingkungan dan segala problematikanya. Ia punya mimpi, suatu hari orang-orang bisa hidup selaras dengan alam. Tidak ada yang mengeksploitasi dan dieksploitasi.
Andesit itu kuat, tapi tidak abadi. Sekuat apapun itu, akan tiba suatu masa ia tidak lagi sekuat hari ini. Hujan akan turun dan mengikisnya secara perlahan. Hujan memberinya pelajaran dan pengalaman yang tak akan ia lupakan.
Andesit jarang menetap. Sejak kecil ia hidup berpindah-pindah. Dari rumah ke rumah. Bukan tanpa sebab, keadaan menjadikannya pribadi yang jarang menetap di rumahnya sendiri. Bukan hanya sekadar numpang hidup, ia juga berusaha untuk menghidupi rumah yang ia diami.
Rumah baru memberinya pemahaman baru, juga masalah baru. Sebagai orang baru, banyak hal yang ia lihat sebagai sebuah masalah dan terus berulang. Mulai dari kegiatan yang itu-itu saja, hingga proses pelaksanaan yang minim persiapan. Padahal, sejak pertama kali bergabung manajemen perjalanan menjadi salah satu materi yang diturunkan. Oleh karena itu, lucu kiranya ketika masih saja gagal dalam perencanaan. Baginya, gagal dalam perencanaan sama saja merencanakan kegagalan.
Hingga suatu hari di rumah yang ia diami, ia ditinggal seorang diri. Andesit dipaksa menghadapi masalah seorang diri. Hal yang tak pernah ia duga sebelumnya, sebab sejak dulu ia selalu diajarkan untuk setia kawan kepada seluruh penghuni rumah. Tidak saling meninggalkan dalam kondisi dan situasi apapun.
Siapapun pasti kecewa, termasuk Andesit. Sejak kejadian itu, ia lebih senang menyendiri. Menghadapi dan menyelesaikan masalahnya sendiri. Ia tidak lagi seperti sedia kala, orang yang dikenal terbuka. Kini ia menjadi pribadi yang tertutup dan sulit ditemui. Beberapa hari terakhir ia tidak lagi muncul di rumah itu. Katanya ia ingin pergi menenangkan diri. Namun hingga hari ini ia belum juga kembali.
Mungkinkah ia kembali setelah apa yang ia rasakan? Setelah perlakuan yang kurang menyenangkan ia terima? Mungkin!
Mungkin juga Andesit telah mati dalam pengasingannya.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar