Senin, 24 April 2023

HARAP


Hari ini, ia sama seperti februari. Ia yang masih bimbang dan terjebak dalam ruang hampa.

Kuharap ia kembali seperti Juni yang riang dan jenaka. Di balik tawa dan senyumnya bersemayam semangat dan harapan.

Kuharap, cukup sampai Juni. Tak perlu ada Juli yang pilu.

[Ruang Imaji, 16/7/2022]

Minggu, 01 Januari 2023

TIDURLAH


Entah sudah pukul berapa, secangkir kopi tadi membuatku terjaga hingga menjelang pagi. Di belakang rumah, gemuruh air laut terdengar riuh. Langit gelap tanpa bintang setelah diserbu petasan yang tak terhitung jumlahnya. Do'a-do'a dan harapan juga turut dilangitkan. Orang-orang menyambutnya begitu ria, seolah hadir memberikan kebahagiaan.

Tak ada resolusi, sama saja dengan tahun-tahun sebelumnya. Berjalan kemanapun kaki membawanya, sesuai hati dan pikiran.

Pembicaraan hari inipun masih seputar hari kemarin. Orang-orang yang sibuk dengan dirinya sendiri, pekerjaan yang begitu-begitu saja, organisasi yang redup, hingga judul skripsi khas mahasiswa tingkat akhir yang sebentar lagi akan menanggalkan status mahasiswanya namun masih terkendala satu nilai mata kuliah eror karena dosen killer.

Sudah kucoba berulangkali; lampu sudah kupadamkan, beberapa lagu payung teduh telah kuputar. Tapi masih saja tidak bisa.

Kucoba mengingat kembali beberapa moment berkesan di tahun 2022. Menjadi Ketua Himpunan, Bakti Sosial di Kampung Walemping, 3000 MDPL pertama, Kuliah Kerja Nyata di Sepang (Nama dusun di Polewali Mandar, bukan di Malaysia). Dalam setiap moment selalu bertemu orang baru, keluarga baru. Mencicipi makanan dan minuman khas daerah itu. Saya yakin, meskipun ada di daerah lain namun rasanya pasti berbeda. Sungguh pengalaman yang rasanya sulit diulang.

Tidurlah, 
Malam terlalu malam.
Pagi terlalu, pagi.
Begitulah lirik lagu yang terdengar ketika saya terbangun.

Kamis, 08 September 2022

KATA DAN PAGI

Aku tidak lagi berharap bahwa setiap kata yang kau tulis ditujukan padaku.

Bagimu, kata hanya sekadar kata. Tidak bermakna.

Kata-kata pernah menghiasi setiap pagiku, pagi yang senantiasa kunanti. Meski mendung dan sesekali rinai.

Karenamu, kata dan pagi tidak lagi berarti bagiku.

Senin, 15 Agustus 2022

KEHILANGAN

 


Ada makna dan pelajaran dari setiap kehilangan

Ketika berusia tujuh tahun, ia berpisah dengan orang tuanya. Mereka pindah ke luar kota untuk bekerja. Ia diminta untuk ikut mengantar orangtuanya ke pelabuhan, tapi ia menolak. Ia memilih untuk pura-pura tidur di kamar seorang diri karena tidak siap menerima kenyataan.

Setiap enam bulan sekali, ketika libur semester ia selalu berkunjung kesana. Meski hanya sekitar tiga-tujuh hari. Baginya sudah cukup untuk mengobati pilu dan rindu. Berkumpul dengan keluarga kecilnya yang sederhana.

Masa itu kemudian membentuknya menjadi pribadi yang tangguh dan mandiri. Menjadi berbeda dari anak-anak sebayanya. Sejak masuk sekolah dasar, ia berjalan ke sekolah yang jaraknya lebih 1 KM seorang diri. Sementara teman-temannya yang lain diantar dan didampingi oleh orangtuanya hingga jam pulang sekolah. Mengerjakan PR sendiri. Semua serba sendiri.

Sejak kepergian itu pula, ia menjadi pribadi yang bebas, meski orang-orang menganggapnya liar. Intensitas kehadirannya di rumah mudah ditebak. Pagi sebelum ke sekolah dan siang sepulang sekolah.   Pulang hanya sekadar mandi, lalu berangkat ke sekolah. Sepulang sekolah, makan dan kerjakan PR lalu pergi lagi. Selebihnya ia habiskan bersama kawan-kawannya. Seperti itulah rutinitasnya setiap hari.

Sekitar sepuluh tahun orangtuanya bekerja di luar kota, hingga akhirnya mereka kembali ke kampung halaman. Kumpul kembali bersama keluarganya. Hari itu ia berdoa dengan penuh harap, semoga tidak adalagi perpisahan selanjutnya.

Beranjak dewasa, ia kembali dipertemukan dengan hari kelam yang tak pernah ia harapkan. Lagi, ia merasa kehilangan. Namun, kali ini bukan orangtuanya yang pergi, tetapi perempuan yang begitu berarti baginya. 

Perempuan yang membuatnya kagum dan jatuh hati. Setiap lembar buku yang ia baca, seolah ada halaman yang hilang dan itu ia temukan dalam diri perempuan tersebut. Sebab, di balik tawa dan senyumnya bersemayam semangat dan harapan.

Berat, iya. Masih berharap, iya. Tapi pilihan perempuan itu sudah bulat. Perempuan itu memilih untuk pergi.

Kepergian perempuan itu membuatnya menjadi seorang pemurung dan sering menyendiri. Ia seolah kehilangan dirinya sendiri. Ia tak pernah membayangkan kejadian seperti itu akan menimpa dirinya. Meski sulit menerima kenyataan, tapi mau tidak mau dan suka tidak suka ia harus menerima kenyataan.

Ia percaya, Tuhan punya cara tersendiri dalam mengatur skenario hidup ciptaannya. Setiap pertemuan pasti ada perpisahan dan perpisahan tidak semuanya harus ditangisi. Sebab, bisa jadi ia akan dipertemukan dengan perempuan yang lebih baik dari sebelumnya. Seperti kalimat perpisahan yang diucap perempuan itu “kau pantas bersama perempuan yang tepat”. Dalam hati ia mengucap Aamiin.


Minggu, 14 Agustus 2022

MENGHITUNG HARI BERSAMA ANDESIT

 

Aku Andesit. Bagiku Andesit nama yang istimewa. Meski di Wadas, ia dikeruk habis-habisan. Orang-orang memperjuangkannya, sebab ia begitu berharga bagi masyarakat. Di sanalah masyarakat menggantungkan harapan dan masa depannya. Disana pula sumber kehidupan masyarakat.

Andesit tertarik dengan isu lingkungan. Termasuk persoalan yang dihadapi oleh masyarakat Wadas. Ketertarikannya mengantarkan ia untuk bergabung dengan sebuah rumah yang dilabeli pecinta alam. Ia ingin belajar banyak hal tentang lingkungan dan segala problematikanya. Ia punya mimpi, suatu hari orang-orang bisa hidup selaras dengan alam. Tidak ada yang mengeksploitasi dan dieksploitasi.

Andesit itu kuat, tapi tidak abadi. Sekuat apapun itu, akan tiba suatu masa ia tidak lagi sekuat hari ini. Hujan akan turun dan mengikisnya secara perlahan. Hujan memberinya pelajaran dan pengalaman yang tak akan ia lupakan.

Andesit jarang menetap. Sejak kecil ia hidup berpindah-pindah. Dari rumah ke rumah. Bukan tanpa sebab, keadaan menjadikannya pribadi yang jarang menetap di rumahnya sendiri. Bukan hanya sekadar numpang hidup, ia juga berusaha untuk menghidupi rumah yang ia diami.

Rumah baru memberinya pemahaman baru, juga masalah baru. Sebagai orang baru, banyak hal yang ia lihat sebagai sebuah masalah dan terus berulang. Mulai dari kegiatan yang itu-itu saja, hingga proses pelaksanaan yang minim persiapan. Padahal, sejak pertama kali bergabung manajemen perjalanan menjadi salah satu materi yang diturunkan. Oleh karena itu, lucu kiranya ketika masih saja gagal dalam perencanaan. Baginya, gagal dalam perencanaan sama saja merencanakan kegagalan.

Hingga suatu hari di rumah yang ia diami, ia ditinggal seorang diri. Andesit dipaksa menghadapi masalah seorang diri. Hal yang tak pernah ia duga sebelumnya, sebab sejak dulu ia selalu diajarkan untuk setia kawan kepada seluruh penghuni rumah. Tidak saling meninggalkan dalam kondisi dan situasi  apapun. 

Siapapun pasti kecewa, termasuk Andesit. Sejak kejadian itu, ia lebih senang menyendiri. Menghadapi dan menyelesaikan masalahnya sendiri. Ia tidak lagi seperti sedia kala, orang yang dikenal terbuka. Kini ia menjadi pribadi yang tertutup dan sulit ditemui. Beberapa hari terakhir ia tidak lagi muncul di rumah itu. Katanya ia ingin pergi menenangkan diri. Namun hingga hari ini ia belum juga kembali.

Mungkinkah ia kembali setelah apa yang ia rasakan? Setelah perlakuan yang kurang menyenangkan ia terima? Mungkin! 

Mungkin juga Andesit telah mati dalam pengasingannya.

Sabtu, 09 Juli 2022

SUATU TEMPAT

Aku ingin membawamu ke suatu tempat yang baru kau tapaki. 

Tempat yang tenteram dan damai, tanpa deru mesin yang bertikai. 

Tempat dimana kau bisa menghirup udara tanpa polusi, tanpa polisi kolusi. 

Rambutmu yang wangi pasti menari sebab angin bertiup sepoi-sepoi.
 
Disana, sesekali kabut menyelimuti orang-orang yang mencari ketenangan diri. Mungkin juga orang-orang yang sunyi dan sepi.

Belum sempat aku mengajakmu, kau memilih pergi. Iyap, lebih tepat lari dari apa yang telah kita sepakati.

Lagi, aku berjalan seorang diri!

Jumat, 08 Juli 2022

DALAM-AN BAWAKARAENG

Pernah suatu ketika saya mendaki salah satu gunung favorit di Sulawesi Selatan, namanya gunung Bawakaraeng. Bawakaraeng dalam bahasa Indonesia berarti mulut tuhan. Gunung ini memiliki 13 pos dengan ketinggian 2830 MDPL. Biasanya orang-orang akan camp di pos 10 karena dekat dengan puncak. Sementara pos 11-13 merupakan jalur lintas menuju gunung lompobattang. 

Di puncak sumber air cukup terbatas. Jika beruntung, maka sumur yang berada di puncak akan terisi. Jika kering, maka pilihannya adalah turun ke pos 9 atau pos 11 untuk mengambil air.

Pada saat itu saya memilih untuk ke pos 11 karena merasa lebih dekat daripada turun ke pos 9. Hari itu saya sedikit kecewa, bukan karena di pos 11 kering. Melainkan, disana saya menjumpai celana dalam (CD) yang berserakan. Bisa tertebak, ini adalah milik orang-orang yang sudah berada diujung tanduk, penuh keringat dingin menahan hajat. Barangkali ada beberapa yang tersisa disitu dan tak ingin ia cuci untuk dibawa pulang. Langkah jitunya yah dibuang, mungkin biar tidak ketahuan haha! Meski tidak berada di jalur air, tapi bagi saya cukup meresahkan.

Malam tiba, kejadian itu saya ceritakan kepada kawan dan kami sepakat untuk kembali ke pos 11 sebelum turun gunung.

Hasilnya tak terduga, satu plastik sampah ukuran sedang terisi penuh dengan berbagai macam merk, motif, dan warna dalaman. 

Sangat disayangkan masih banyak orang yang meninggalkan sampah di tempat yang mereka anggap indah dan menakjubkan. Padahal, kita tidak boleh meninggalkan apapun kecuali jejak. Jejak yang dimaksud ialah bekas tapak kaki, bukan dalaman atau sampah-sampah yang lain.